Boku no Blog - Popularitas sepeda lipat atau folding bike makin meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini seiring perkembangan tren berolahraga dengan sepeda pada masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di Indonesia.



Kemunculan tren itu juga dipicu tingginya keinginan masyarakat untuk beraktivitas di luar ruangan setelah lebih dari tiga bulan melakukan karantina di rumah saja.

Sesuai namanya, sepeda lipat adalah sepeda yang bisa dilipat karena memiliki engsel pada rangka dan roda yang lebih kecil dari sepeda biasa.

Karena dapat lipat, sepeda yang populer disebut “seli” ini pun jadi lebih ringkas dan mudah di bawa ke mana pun, termasuk ke dalam transportasi umum dan ruang kerja di kantor.

Dengan begitu, pengguna sepeda lipat tidak perlu bingung mencari parkiran atau khawatir meninggalkan sepeda di tempat umum.

Meski demikian, seli sebenarnya bukanlah produk inovasi baru. Sepeda jenis ini pertama kali diperkenalkan sejak akhir abad ke-19.

Jadi tunggangan militer Eropa

Dilansir dari Changebike.co.uk, Senin (25/5/2020), ide sepeda lipat dicetuskan pertama kali oleh penemu Amerika Emmit G Latta. Ia mengajukan paten untuk improvisasi model sepeda pada 1887.
Ide Latta sederhana. Ia menginginkan sepeda yang lebih aman, kuat, mudah dirawat, dan gampang dikemudikan dibandingkan sepeda yang ada pada waktu itu.

“Juga dapat dilipat ketika tidak digunakan sehingga hanya butuh ruang sedikit saat disimpan,” tulis Latta dalam nota paten yang diajukan, seperti dikutip dari Litelok.com.

Kemudian, Pope Manufacturing Company membeli paten itu dari Latta. Sayangnya, hingga saat ini masih belum diketahui apakah sepeda tersebut benar-benar diproduksi oleh perusahaan tersebut. Pasalnya, tidak pernah ada yang menemukan contoh sepeda keluaran Pope.

Cerita perjalanan sepeda lipat pun semakin menarik karena ternyata ikut menjadi bagian dari sejarah militer dan perang dunia.

Dikutip dari Thevintagenews.com, Sabtu (30/7/2016), pada 1890-an tentara Prancis tertarik menggunakan sepeda lipat untuk keperluan militer. Satu dekade kemudian, atau 1900, tentara Inggris mengikuti langkah Prancis.

Untuk mengakomodasi kebutuhan militer Inggris, Mikael Pedersen dari perusahaan Dursley-Pedersen mengembangkan versi lipat rancangannya. Sepeda rancangan insinyur asal Denmark ini pun terkenal dengan sebutan Detachable Dursley-Pedersen Cycle.

Berat sepeda lipat tersebut hanya 15 pon atau setara 6,8 kg. Dengan berat segitu, sepeda rancangan Pedersen diklaim sebagai yang teringan pada awal abad ke-20 karena rerata berat sepeda saat itu 12,5 kg.

Sepeda lipat Pedersen menggunakan roda berukuran 24 inci. Ukuran roda ini juga merupakan inovasi baru karena umumnya sepeda pada tahun-tahun tersebut menggunakan roda 28 inci.
Untuk menunjang kebutuhan prajurit, Detachable Dursley-Pedersen Cycle juga dilengkapi rak senapan di bagian depan.

Pada tahun-tahun berikutnya, banyak negara ikut menjadikan sepeda lipat sebagai alat transportasi pasukan militer mereka. Hal ini karena seli adalah alat transportasi yang dapat diterbangkan bersama pasukan terjun payung.

Tak main-main, The British WWII Airborne BSA bahkan merancang sepeda lipat dengan model khusus untuk keperluan Perang Dunia II. Sepeda ini ketika diterjunkan, setang dan kursi akan mengenai tanah terlebih dahulu sehingga roda tidak mudah rusak dan bengkok.

Sepeda yang dirancang kokoh itu digunakan oleh militer Inggris untuk pasukan terjun payung, pasukan komando, dan unit infanteri gelombang kedua pada pendaratan D-Day dalam Perang Arnhem.



Era kebangkitan sepeda lipat

Desain sepeda lipat saat ini—dengan roda kecil dan rangka rendah—sebenarnya bukan inovasi baru. Desain tersebut dapat dilacak dari sepeda lipat Le Petit Bi dari Prancis.

Sang perancang, Andre Jules Marcelin, mematenkan rancangannya pada 1939. Mengutip Foldingcyclist.com, Le Petit Bi sepertinya urung diproduksi secara massal gara-gara Perang Dunia II meletus pada 1942.

Baru pada 1970-an, sepeda lipat dengan model seperti Le Petit Bi diminati masyarakat Eropa. Salah satu sepeda lipat yang populer saat itu bernama Raleigh Twenty atau juga disebut Stowaway. Sepeda ini diperkenalkan pada 1971.

Saking populernya, produksi seli ini bertahan hingga 13 tahun. Desainnya sangat ringan dengan roda yang kecil dan memiliki engsel di tengah, mirip dengan desain seli terkini.

Selain Raleigh Twenty, salah satu perancang sepeda lipat legendaris pada 1970 bernama Harry Bickerton juga mengenalkan desainnya bernama Bickerton Portable.

Bickerton yang diproduksi pertama kali memiliki roda kecil dengan rangka rendah serta ukuran setang besar yang tak biasa.

Bingkainya terbuat dari aluminium ringan tanpa pengelasan apa pun. Sebagai gantinya, Bickerton memiliki banyak tuas dan klem sehingga mudah dilipat dan dibawa.

Pada akhir 1970-an, desain sepeda lipat klasik Bickerton itulah yang mengilhami penemu Inggris Andrew Ritchie menciptakan Brompton yang kamu kenal sekarang.

Saat ini, Brompton merupakan produsen seli terbesar di Inggris yang menghasilkan lebih dari 45 ribu sepeda per tahun. Model sepeda lipat Brompton banyak digemari karena memiliki banyak desain unik yang mampu mengakomodasi ragam style peminatnya.

Tak hanya Brompton, pada awal 1980-an, Dr. David Hon dan saudaranya Henry Hon juga terinspirasi dari model seli Bickerton yang diberi nama Dahon. Sedikit berbeda dari Brompton, Dahon justru mengambil jalur pasar yang menginginkan desain seli standar.

Desain sepeda lipat Dahon itu tampaknya menyesuaikan pemikiran masyarakat umum ketika menginginkan sepeda lipat. Keberhasilan strategi ini telah dibuktikan Dahon dengan menguasai 60 persen pangsa pasar sepeda lipat Eropa.



Kehadiran Brompton cita rasa lokal

Selain Brompton dan Dahon, ragam merek sepeda lipat kelas premium dari berbagai negara telah berseliweran di Indonesia, antara lain Bike Friday, Birdy, Hummingbird, Tyrell, dan sebagainya.

Harga yang dibanderol untuk seli ragam merek itu pun sangat bersaing pada kisaran puluhan hingga ratusan juta rupiah.

Meski tergolong mahal, Brompton tak bisa dimungkiri tetap menjadi sepeda lipat yang menjadi buah bibir di kalangan peminat sepeda di Indonesia.

Karena harganya yang selangit itu pula, banyak orang hanya bisa menelan ludah dan harus menahan hasrat memilikinya.

Apalagi menurut pelaku jual beli sepeda Brompton yang dikutip dari Kompas.com, Selasa (30/6/2020), pada “musim sepedaan” sekarang ini harga Brompton melambung 20 hingga 30 persen.

Lonjakan harga seli Brompton itu dipicu minimnya pasokan yang disertai tingginya permintaan. Kekosongan stok ini merupakan imbas dari pandemi Covid-19 yang dialami banyak dealer sepeda di berbagai negara.

Nah, dari celah pasar itu, lahirlah “brompton-brompton” bercita rasa Indonesia yang menawarkan produk seli dengan harga lebih menggoda. Meski lebih murah, soal kualitas jangan pernah ragukan karya anak bangsa.

Salah satunya adalah sepeda lipat Element yang diproduksi pada 2019 oleh pabrikan sepeda asal Kendal Jawa tengah, PT Roda Maju Bahagia. Dilansir dari Kompas.com, Kamis (2/7/2020), CEO perusahaan ini pun mengaku awalnya memang terinspirasi dari merek sepeda Inggris tersebut.

“Setelah melakukan riset, kami pun akhirnya memutuskan membuat Pikes Gen 1 dengan beberapa penyesuaian sehingga tampak seperti Brompton,” kata Hendra, CEO PT Roda Maju Bahagia.
Sebentar lagi, Element juga bakal meluncurkan produk pengembangan Pikes Gen 1 yang diberi nama Pikes Gen 2.

Meski bercita rasa lokal, peminat seli Element sangat positif. Hal ini terbukti dari kehebohan di media sosial soal peluncuran Pikes Gen 2 yang harus diundur karena terlambatnya pengiriman salah satu spare part.

Sekalipun dengan harga yang jauh di bawah Brompton, sepeda lipat Element generasi Pikes tampaknya juga tak bisa dibilang murah. Jika kamu ingin memiliki, satu unit seli keluaran Element dibanderol Rp 8 juta hingga Rp 10 juta.

Selain Element, baru-baru ini media sosial juga diramaikan dengan “Brompton made in Bandung” bernama Kreuz. Dilansir dari Kompas.com, Jumat (19/6/2020) desain seli Kreuz ini ditemukan Yudi Yudiantara dan Jujun Junaedi dengan membongkar Brompton seri terbaru pada 2019.

“Prototipe pertama ini banyak kesalahan. Meski geometris dan wheelbase-nya sama, detailnya ada yang salah. Tapi, kalau digunakan sudah enak dan nyaman,” tutur Yudi.

Saat itu, seli Kreuz memang belum resmi diproduksi, tetapi sudah banyak masyarakat yang tertarik dengan prototipe tersebut.

Yudi dan Jujun sendiri tak ingin buru-buru menjualnya karena belum mengetahui kelemahan dan tak ingin produknya hanya sekadar bisnis.

Dengan bantuan modal dari seorang teman, mereka pun terus mengembangkan prototipe seli Kreuz hingga menjadi sepeda lipat yang kualitasnya tak kalah dari Brompton.

“Basic-nya memang Brompton, tapi tekukannya kami buat beda. Kalau Brompton di tengah, kami dari awal. Bentuk kepala juga dibuat berbeda,” jelas Yudi.

Selain kualitasnya yang tak sembarangan, Kreuz juga dibanderol dengan harga yang cukup terjangkau, yakni di kisaran Rp 3,5 juta hingga Rp 8 juta saja.

Bila ingin memiliki seli lokal yang satu ini, kamu harus bersabar karena antreannya sudah mencapai Juni 2022.

Kelebihan lainnya, Kreuz dibuat secara handmade dengan memaksimalkan keterampilan 172 pelaku UMKM di sejumlah kota di Jawa Barat dan Jawa Timur.

Ya, cerdas menangkap peluang merupakan kunci keberhasilan sebuah karya. Tentunya juga harus ditunjang dengan inovasi dan polesan kreativitas untuk menyesuaikan dengan pangsa pasar yang dituju.
Hal itu pula yang ditunjukkan sederet karya sepeda lipat dari Eropa hingga akhirnya menginspirasi kelahiran Element dan Kreuz di Indonesia.

Kamu pun bisa mengikuti jejak mereka selama ada niat dan kemauan kuat untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat. Terlebih, saat ini banyak program inkubasi ide bisnis dari pemerintah, BUMN, maupun swasta. Pun juga dengan program kredit permodalan usaha dari perbankan.



14 comments:

  1. Betul sekali dan lengkap apa yang telah dijelaskan diatas bahwa sepeda lipat sudah ada sejak dahulu kala. Cuma bedanya bobotnya lebih berapa dan diameter rodanya cukup besar.😊😊

    Berbeda dengan SELI sekarang yang lebih mengandalkan batang jok dan tambahan gear belakang yang hampir sama dengan sepeda Mountain Bike. Yaa mungkin pabrikan melakukan hal itu biar lipatan Sepeda tidak terlalu banyak makan tempat dan mudah juga untuk dimasukan kedalam koper. Karena yang saya tahu SELI model dulu besar dan berat meski sudah dilipat pun butuh ruang cukup besar.😊😊


    Sebagai anak Sepeda Mountain Bike sejak 2004 entah mengapa saya kurang tertarik pada SELI. Meski bromton sekalipun. Kayanya kurang PD saja menaikinya Haahaaa..🤣🤣

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Satria Mwb_Wah mas Satria suhu MTB ini hehehe :)
      saya juga senang gowes mas, tapi pecinta jalan yang lurus dan datar :)

      Delete
  2. ow baru tahu, rencana mau beli belum kesampaian, karena tabungan kurang 500 ribu pas incer suatu barang, eh abis itu langsung naik 2 x lipat hehhee. itu di bawah jok ada apanya ? sayuran kah

    ReplyDelete
    Replies
    1. @abasozora_sekarang harga sepeda membumbung tinggi.
      harga dari sebelumnya saja naik 2x lipat banyak yang antri beli. Itu yang di bawah jok, buah apel :)

      Delete
  3. Kalau sekarang tentu lebih banyak peminatnya ya, tapi memang harganya lumayan banget. Kala masih sma saya punya sepeda federal pemberian orang tua harganya aja 400rb, sekarang sudah sekitar 5 jutaan

    ReplyDelete
    Replies
    1. @iidyanie_Iya mbak. Padahal sebelum sepeda sengetrend sekarang ini sepeda Federal sempat ngetrend lho mbak.

      Delete
  4. Jujur saya malah baru tahu mengenai sepeda lipat setelah ngetrend sekarang.
    Tapi bagi saya yang kantongnya pas-pasan, punya sepeda biasa aja udah senang banget hahahaha

    Meski sepeda lipat sebenarnya lebih asyik karena praktis :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Reyne Raea (Rey)_Bukan sepeda nya, yang penting sepedaan ya Mbak.. :-)

      Delete
  5. Terjawab sudah penasaranku tentang sejarah sepeda yang kini lagi digandrungi banyak orang, bahkan di desa-desa juga iyaa ...
    Fenomena ini bisa dibilang rekor karena jumlah penjualan dan permintaan pasar sangat besar.
    Tak peduli sepeda baru atau seken semuanya naik harga berkali lipat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. @Himawan Sant_Kondisi saat ini, dengan adanya AKB berdampak positif bagi industri sepeda mas. Mudah-mudahan seusai pandemi ini nantipun kebiasaan bersepeda seperti saat ini bisa berlangsung terus, untuk menjaga kesehatan dan stamina tubuh.

      Delete
  6. Great sharing! What a cool bike!
    I have never ridden a bike for a long time :)

    ReplyDelete
  7. @Evi Erlinda_Thank U. What happened??

    ReplyDelete
  8. menarik sejarahnya.... dah lama teringin nak beli sebuah...

    ReplyDelete
  9. Halo, mas...apa kabar? Wah senangnya pertama kali mampir di blog ini. Ceritanya penuh makna semua :D Aku jadi tau sejarah sepeda lipat deh jadinya. Di rumah aku punya Bianchi, Panasonic suami sejak 1994 dll.

    ReplyDelete

 
Top